Parrhesiastes: Komunikator yang Berani Suarakan Kebenaran Pada Penguasa

parrhesiastes

Parrhesiastes: Komunikator yang Berani Suarakan Kebenaran
Oleh: Yons Achmad
(Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik.com)

“Kaum intelektual dinilai tak punya keberanian, justru jadi penyokong kekuasaan tirani.” Begitu judul berita pada harian Kompas (1 Mei 2024). Adalah Sukidi, Doktor lulusan Harvard yang mengatakan demikian dalam sebuah diskusi dan peluncuran karya lengkap Bung Hatta. Digelar oleh LP3ES. “Hari-hari ini keberanian itu tidak dimiliki kaum intelektual dan intelektual justru menjadi penyokong dari kekuasaan yang sangat tirani,” kata Sukidi dalam paparannya.

Terkait hal ini, saya teringat sebuah buku berjudul Parrhesia (Berani Berkata Benar), karangan Michel Fucault. Di dalam buku itu dijelaskan bagaimana kata parrhesia muncul pertama kali dalam kesusastraan Yunani pada karya-karya Euripides (484-407 SM). Kata ini selanjutnya berkembang luas. “Keterusterangan” menjadi bagian penting dalam hal ini. Orang yang menggunakan parrhesia disebut parrhesiastes: adalah orang yang mengatakan segala sesuatu yang dipikirkan. Ia tidak menyembunyikan apapun, tetapi membuka hati dan pikirannya sepenuhnya kepada orang lain.

Orang dikatakan menerapkan parrhesia hanya jika terdapat risiko atau bahaya dalam mengungkap kebenaran. Misalnya, seorang guru tatabahasa mungkin menyampaikan kebenaran kepada anak-anak didiknya, tetapi ia bukan seorang parrhesiastes. Namun, ketika seseorang berbicara dihadapan seorang tiran dan menegaskan kepadanya bahwa tirani tidak sejalan dengan keadilan, makai ia telah berbicara benar dan percaya bahwa ia telah berbicara benar. Dan lebih dari itu, ia juga mengambil risiko.

Sebuah pertanyaan lanjutan yang muncul. Apakah parrhesiastes mengatakan apa yang ia pikir benar. Atau ia mengatakan apa saja yang memang benar? Di sini, parrhesiastes mengatakan apa yang benar karena tahu hal ini benar dan ia tahu bahwa hal ini benar karena hal ini memang benar. Pihak parrhesiastes tidak hanya tulus dan mengatakan apa saja pendapatnya, tetapi pendapatnya juga benar. Ia mengatakan apa yang ia ketahui memang benar. Dengan demikian, ciri kedua dari parrhesia adalah selalu terdapat koinsidensi yang presisi (exact coincidence) antara kepercayaan (belief) dan kebenaran (truth).

Hari-hari lalu, katakanlah selama 10 tahun pemerintahan Jokowi, apa yang disampaikan Sukidi rasa-rasanya benar adanya. Para intelektual, akademisi, kaum terdidik banyak yang tiarap, diam mencari aman, tidak punya keberanian menyampaikan kebenaran. Bahkan diantaranya justru menyokong kekuasaan yang cenderung tiran. Kita juga menyaksikan bagaimana, seperti yang disebut Michel Faucault sebagai kaum parrhesiastes sangat minim. Hasilnya, nafsu kekuasaan begitu bebas melenggang tanpa ada yang bisa menghentikan.

Tentu, tak menafikan ada sosok Rocky Gerung di sini. Intelektual publik yang kritis terhadap beragam kebijakan penguasa yang tidak pro keadilan dan cukup piawai melawan pikiran-pikiran tiran yang menyesatkan. Satu pertanyaan lanjutan. Bagaimana kira-kira performa intelektual muslim dihari-hari ke depan? Saya kira hal ini patut menjadi bahan renungan.

Dalam teologi Islam, Jihad yang paling utama bagi umat Islam adalah menyampaikan kebenaran pada penguasa zalim. Pernyataan ini telah disampaikan Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diceritakan Abu Sa’id Al Khudri, artinya: “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang benar) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Daud). Saya kira, ini menjadi tantangan tersendiri bagi intelektual muslim. Menyampaikan kebenaran-kebenaran yang ia percayai dan memang seperti itulah kebenaran. Basis data dan fakta, ketajaman analisis, keelokan logika, argumentasi yang masuk akal, ketulusan serta kebajikan dalam penyampaian menjadi modal sebelum amal dilakukan. []